Hari menjelang malam.
Di sebuah desa yang berada di daerah kaki gunung. Suasana desa itu nampak
begitu sepi. Terlihat rumah rumah berdinding bambu berderetan saling berhadapan
dengan jalan kecil ditengahnya. Namun,disebuah rumah, terlihat Amar masih sibuk
untuk belajar. Bocah 12 tahun itu tengah asyik belajar di ruangan yang hanya
disinari oleh sebuah lampu minyak. Dengan begitu semangat ia terus menulis di buku
tulisnya. ”Mar.. Mar.. Ayo makan.!” Panggil seorang perempuan dari dapur. ”Iya,Mak.!”
Jawab Amar dengan menyudahi kegiatannya lalu merapikan buku bukunya dan segera
berlari menuju ke arah suara Emaknya.
Disana terlihat seorang
laki laki paruh baya dengan rambut yang sudah beruban. Dan terlihat Amar dengan
santainya duduk bersila di samping laki laki itu. ”Ayo makan,Man.Jangan terlalu
sering belajar,nanti kamu malah sakit.” Ucap laki laki paruh baya itu dengan
menyendokan nasi untuk Amar dan menaruhnya di sebuah piring kosong di depan Amar
duduk. Laki laki itu adalah Pak Di, ia bekerja sebagai seorang petani sayur
didesanya. Pak Di bernama Hadi dan orang orang desa sering memanggilnya Pak Di,
sementara Emak Amar bernama Dewi dan biasa dipanggil dengan nama Mak Wi. Amar
juga mempunyai seorang kakak laki-laki, hanya saja saat ini kakak Amar itu
tengah bekerja di luar negeri yaitu tepatnya Negara Malaysia.Nama kakak Amar
itu adalah Firman. “Hehehehe… Iya,Pak. Tapi ini juga untuk Amar,supaya pintar
nanti.” Jawab Amar dengan tertawa kecil. “Ayah tahu itu. Tapi jangan kau
terlalu sering belajar. Sekali kali bermainlah keluar rumah dengan teman
temanmu sekolah. Jangan hanya diam di rumah saja. Bisa-bisa kau nanti jadi
kuper kalau” Sahut Pak Di dengan mengambilkan 2 potong tempe dan menyerahkannya
ke Amar dan terlihat Amar menerimanya dengan menyodorkan piringnya.