Jumat, 27 Maret 2015

Hilangnya Senyuman Emak




Hari menjelang malam. Di sebuah desa yang berada di daerah kaki gunung. Suasana desa itu nampak begitu sepi. Terlihat rumah rumah berdinding bambu berderetan saling berhadapan dengan jalan kecil ditengahnya. Namun,disebuah rumah, terlihat Amar masih sibuk untuk belajar. Bocah 12 tahun itu tengah asyik belajar di ruangan yang hanya disinari oleh sebuah lampu minyak. Dengan begitu semangat ia terus menulis di buku tulisnya. ”Mar.. Mar.. Ayo makan.!” Panggil seorang perempuan dari dapur. ”Iya,Mak.!” Jawab Amar dengan menyudahi kegiatannya lalu merapikan buku bukunya dan segera berlari menuju ke arah suara Emaknya.
Disana terlihat seorang laki laki paruh baya dengan rambut yang sudah beruban. Dan terlihat Amar dengan santainya duduk bersila di samping laki laki itu. ”Ayo makan,Man.Jangan terlalu sering belajar,nanti kamu malah sakit.” Ucap laki laki paruh baya itu dengan menyendokan nasi untuk Amar dan menaruhnya di sebuah piring kosong di depan Amar duduk. Laki laki itu adalah Pak Di, ia bekerja sebagai seorang petani sayur didesanya. Pak Di bernama Hadi dan orang orang desa sering memanggilnya Pak Di, sementara Emak Amar bernama Dewi dan biasa dipanggil dengan nama Mak Wi. Amar juga mempunyai seorang kakak laki-laki, hanya saja saat ini kakak Amar itu tengah bekerja di luar negeri yaitu tepatnya Negara Malaysia.Nama kakak Amar itu adalah Firman. “Hehehehe… Iya,Pak. Tapi ini juga untuk Amar,supaya pintar nanti.” Jawab Amar dengan tertawa kecil. “Ayah tahu itu. Tapi jangan kau terlalu sering belajar. Sekali kali bermainlah keluar rumah dengan teman temanmu sekolah. Jangan hanya diam di rumah saja. Bisa-bisa kau nanti jadi kuper kalau” Sahut Pak Di dengan mengambilkan 2 potong tempe dan menyerahkannya ke Amar dan terlihat Amar menerimanya dengan menyodorkan piringnya.